Warga Tunggu Penyelesaian, Mediasi Kebun Sawit Terbakar dengan Pihak Usaha Tebu Batal
ANDALASNET.COM
Tubaba - Upaya Pemerintah Tiyuh Gunung Katun Tanjungan, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), untuk mempertemukan warga pemilik kebun sawit yang terdampak kebakaran dengan pihak usaha kebun tebu yang disebut sebagai mitra PT Gunung Madu, belum membuahkan hasil.
Kepalo Tiyuh Gunung Katun Tanjungan, Laily, mengungkapkan bahwa dirinya telah berinisiatif membuka ruang mediasi antara warga dan pihak usaha. Namun, rencana pertemuan tersebut disebut kandas setelah Anjar, yang disebut sebagai perwakilan pihak usaha kebun tebu, tidak bersedia memenuhi undangan untuk duduk bersama membahas persoalan tersebut.
Menurut Laily, mediasi tersebut penting dilakukan agar persoalan kebakaran yang berdampak terhadap kebun sawit milik sejumlah warga tidak berkembang menjadi konflik yang berkepanjangan.
“Saya mau memediasi kedua pihak, warga yang kebunnya terbakar dengan pihak usaha kebun tebu. Saya sudah menghubungi Lanjar untuk datang ke rumah supaya kita duduk bersama dan mencari solusi,” kata Laily kepada Media, Jumat (18/9/2026).
Laily menjelaskan, pertemuan tersebut sejatinya bukan untuk menyudutkan salah satu pihak, melainkan sebagai langkah awal untuk mempertemukan pihak-pihak yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
Pemerintah tiyuh, kata dia, ingin memastikan persoalan yang dirasakan masyarakat dapat dibicarakan secara terbuka, termasuk mengenai dampak kebakaran serta kerugian yang dialami warga.
Namun, niat tersebut belum terlaksana karena pihak yang hendak ditemui disebut tidak bersedia hadir.
“Saya sudah berusaha mempertemukan kedua pihak, tetapi Anjar tidak mau datang. Padahal saya mengundang untuk membicarakan masalah ini baik-baik dan mencari jalan keluarnya bersama,” ujarnya.
Pemerintah Tiyuh Klaim Tak Pernah Diberi Pemberitahuan
Selain persoalan kebakaran, Laily juga menyoroti aspek komunikasi antara pihak usaha dengan Pemerintah Tiyuh Gunung Katun Tanjungan.
Ia mengaku tidak mengetahui sejak awal mengenai keberadaan maupun aktivitas Lanjar yang disebut sebagai mitra PT Gunung Madu di wilayah tersebut.
“Saya dari awal tidak tahu kalau Lanjar itu tangan-tangannya PT Gunung Madu yang menjadi mitra di sini. Mereka juga tidak pernah ada pemberitahuan kepada pihak pemerintah tiyuh,” ungkapnya.
Menurut Laily, komunikasi dengan pemerintah tiyuh merupakan hal penting, terlebih aktivitas usaha yang dilakukan berada di sekitar permukiman dan berpotensi menimbulkan dampak terhadap masyarakat.
Pemerintah tiyuh, lanjutnya, seharusnya memperoleh informasi mengenai aktivitas usaha yang berlangsung di wilayah administrasinya, sehingga apabila muncul persoalan di lapangan, komunikasi dan penanganannya dapat dilakukan secara cepat.
Laily juga menyayangkan aktivitas pembakaran lahan tebu yang menurutnya menimbulkan gangguan bagi masyarakat sekitar.
Ia menyebut asap dan abu hasil pembakaran masuk ke area permukiman warga. Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan masyarakat dan semestinya menjadi perhatian pihak yang melakukan aktivitas pembakaran.
“Yang sangat disayangkan, ada pembakaran lahan tebu. Polusinya dan abunya masuk ke rumah warga. Seharusnya ada kesadaran dari pihak usaha untuk mengantisipasi dampak seperti itu agar tidak mengganggu masyarakat,” katanya.
Persoalan kemudian menjadi semakin serius ketika kebakaran tersebut disebut berdampak terhadap kebun sawit milik sejumlah warga.
Bagi pemerintah tiyuh, kondisi tersebut tidak cukup hanya disikapi dengan saling menyampaikan klaim. Diperlukan pertemuan langsung untuk mengklarifikasi kronologi, mengetahui sumber maupun penyebab kebakaran berdasarkan fakta di lapangan, serta membahas dampak kerugian yang dialami masyarakat.
Karena itu, Laily kembali menegaskan pentingnya keterbukaan dari pihak usaha untuk bertemu dengan warga dan pemerintah tiyuh.
Laily berharap pihak usaha tidak menutup ruang komunikasi. Menurutnya, persoalan yang menyangkut masyarakat seharusnya dapat diselesaikan melalui musyawarah terlebih dahulu dengan mengedepankan keterbukaan dan kepentingan masyarakat.
“Harapan saya, kedua pihak bisa duduk bersama. Jangan sampai masalah ini berlarut-larut. Kalau dibicarakan dengan baik, mudah-mudahan ada solusi yang bisa diterima semua pihak,” pungkasnya.
Upaya mediasi yang dilakukan Pemerintah Tiyuh Gunung Katun Tanjungan tersebut menjadi penting untuk memastikan persoalan antara warga dan pihak usaha tidak berhenti pada saling klaim. Terlebih, terdapat warga yang mengaku mengalami kerugian akibat kebakaran yang berdampak pada tanaman sawit mereka.
Hingga berita ini diterbitkan, masih berupaya memperoleh konfirmasi dari Anjar maupun pihak usaha kebun tebu yang disebut sebagai mitra PT Gunung Madu mengenai alasan ketidakhadiran dalam upaya mediasi tersebut, serta meminta penjelasan terkait aktivitas pembakaran lahan dan dugaan dampaknya terhadap kebun sawit warga. (Bas)
Daerah
Kepalo Tiyuh Laily Upayakan Mediasi Kebun Sawit Warga dengan Mitra PT Gunung Madu Buntu, Anjar Disebut Tak Bersedia Hadir
18 September 2026 • 8 views
Andalas
Popular News
Berita dengan jumlah pembaca tertinggi
Trending News
Berita yang paling banyak dibaca
Get In Touch
Jln. Lintas Panaragan Jaya No 665 Tulang Bawang Barat Lampung Pos : 34593
085266406365
pt.andalasmediagroup@gmail.com
© Andalas. All Rights Reserved.